Ilmu sebagai Dasar Untuk Memahami Adab Jalan Mengabdi kepada Allah SWT

NADARAKYAT.COM, TEBO JAMBIAllah SWT menegaskan tujuan penciptaan manusia dalam Al-Qur’an pada Surah Adh-Dhariyat Ayat 56 yang artinya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Ibadah tidak hanya dimaknai sebagai shalat atau amalan ritual, tetapi mencakup seluruh aktivitas kehidupan yang diniatkan karena Allah dan dilaksanakan sesuai dengan perintah-Nya.

Untuk dapat beribadah dengan benar, manusia harus memiliki ilmu. Melalui ilmu, seseorang dapat memahami ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW serta mengetahui cara mengabdi kepada Allah sesuai tuntunan yang benar.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Majelis Mursyidin Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah (TNAJ), Tuan Guru Dr. SM Munawar Kholil Alkholidi, S.Th.I, M.Pd.I mengupas hal ini pada kegiatan ibadah suluk Ramadhan di Rumah Suluk Darus Salikin, Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi, Rabu (4/3/2026).

Tuan Guru Munawar Kholil dalam tausiyahnya menjelaskan pentingnya mengamalkan zikir sebagai sarana untuk senantiasa mengingat Allah SWT.

“Zikir lisan merupakan proses untuk menumbuhkan zikir dalam hati. Dengan demikian, seseorang akan selalu mengingat Allah dan merasakan kedekatan dengan-Nya,” ujar Tuan Guru di hadapan para jamaah.

Namun demikian, beliau menegaskan bahwa zikir dan tawakal harus diawali dengan ilmu. Tanpa ilmu, seseorang tidak akan mampu memahami pesan-pesan Allah SWT, ajaran Nabi Muhammad SAW, maupun nasihat para guru.

“Banyak orang rajin beribadah dan berzikir, tetapi kurang dalam ilmu. Padahal, ilmu menjadi dasar untuk memahami adab dan ajaran yang benar,” tegasnya.

Tuan Guru juga menjelaskan perbedaan antara adab dan akhlak. Menurutnya, akhlak terbagi menjadi dua, yakni akhlak mahmudah (terpuji) dan akhlak mazmumah (tercela), sedangkan adab merupakan buah dari ilmu yang benar.

“Ibadah melahirkan akhlak, sedangkan ilmu melahirkan adab. Orang yang rajin beribadah akan memiliki akhlak yang baik, tetapi belum tentu memiliki adab yang sempurna. Sebaliknya, orang yang berilmu akan memiliki adab, meski tetap perlu menyempurnakannya dengan ibadah,” jelasnya.

Tuan Guru Munawar Kholil yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Marjanul Qalbi Jambi, menambahkan, keseimbangan antara zikir dan tafakur menjadi tujuan utama didirikannya rumah suluk yang terintegrasi dengan pesantren. Dengan demikian, jamaah tidak hanya fokus pada zikir semata, tetapi juga memperkuat pemahaman keilmuan.

“Ilmu dan ibadah harus berjalan beriringan agar lahir pribadi yang berakhlak dan beradab,” jelas Tuan Guru Munawar Kholil.

(S.H)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *