Dunia Pendidikan diInhu Rusak Tercoreng, Ini Penyebabnya

Fhoto ilustrasi karikatur google

 

NADARAKYAT.COM, INHUUang saku/transport sebesar Rp150.000 per siswa dalam kegiatan lomba literasi yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Riau diduga dipotong oleh sejumlah kepala sekolah di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Besaran pemotongan disebut bervariasi di tiap sekolah.

Kegiatan lomba mengulas buku cerita literasi tersebut digelar pada Sabtu, 11 April 2026, di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pematang Reba. Sekitar 20 Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Inhu turut berpartisipasi dengan mengirimkan masing-masing 10 siswa dari kelas 3 dan kelas 5, serta satu orang guru pendamping.

Sejumlah sekolah yang mengikuti kegiatan antara lain SDN 022 Pandan Wangi, SDN 013 Jati Rejo, SDN 003 Danau Baru, SDN 002 Kota Lama, SDN 05 Sungai Raya, SDN 005 Pekan Heran, SDN 004 Belilas, SDN 031 Sungai Guntung Hilir, SDN 001 Pekanheran, SDN 004 Rantau Bakung, SDN 012 Sungai Kemiri, SDN 014 Tanah Datar, SDN 016 Bukit Selasih, SDN 023 Tani Makmur, SDN 025 Pekanheran, SDN 014 Airmolek, SDN 010 Morong, SDN 005 Sungai Sagu, dan SDN 008 Rantau Sari.

Dalam pelaksanaannya, pihak penyelenggara dari provinsi memberikan uang saku sebesar Rp150.000 kepada setiap siswa dan jumlah yang sama untuk guru pendamping. Namun, muncul keluhan dari sejumlah siswa terkait jumlah uang yang diterima tidak sesuai.

Tiga siswa yang enggan disebutkan namanya mengaku hanya menerima uang antara Rp50.000 hingga Rp70.000.
“Yang kami terima hanya Rp60.000. Ada juga yang Rp50.000 dan Rp70.000, padahal katanya dari provinsi Rp150.000,” ujar mereka.

Menanggapi hal tersebut, beberapa kepala sekolah memberikan penjelasan berbeda. Riduan, Kepala SDN 012 Sungai Kemiri, saat dikonfirmasi wartawan menyebutkan bahwa Rp70.000 diberikan kepada siswa, sementara Rp80.000 digunakan untuk kebutuhan video dan Zoom.

Sementara itu, Emi Arvija, Kepala SDN 016 Bukit Selasih, mengatakan pihaknya memberikan Rp60.000 kepada masing-masing siswa.
“Mereka senang, tidak ada yang keberatan. Uang itu sudah kami bagikan,” ujarnya.

Pengakuan serupa datang dari seorang guru pendamping SDN 025 Pekanheran yang menyebutkan bahwa siswa menerima Rp50.000, sedangkan Rp100.000 digunakan untuk kebutuhan Zoom.

Di sisi lain, Suyeni, Kepala SDN 003 Danau Baru, menyampaikan bahwa Rp100.000 diberikan kepada siswa, dan Rp50.000 digunakan untuk dua kali kegiatan Zoom.

Namun demikian, tidak semua sekolah melakukan pemotongan. Abu Qory, Kepala SDN 005 Pekan Heran, menegaskan bahwa pihaknya menyerahkan uang Rp150.000 secara utuh kepada siswa tanpa potongan.

“Uang diberikan langsung di depan orang tua setelah kegiatan, tidak dipotong satu rupiah pun,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Hervandi, Kepala SDN 002 Kota Lama, yang menyebut uang dari provinsi sudah dalam amplop dan langsung dibagikan kepada siswa.
“Itu hak anak, kami tidak memotongnya,” ujarnya.

Lisma Suryani, Kepala SDN 001 Pekanheran, juga memastikan bahwa dana tersebut diberikan penuh kepada siswa usai kegiatan.

Sementara itu, Fitriandi selaku penyelenggara dari Balai Bahasa Provinsi Riau menyatakan bahwa pihaknya telah menyalurkan dana sebesar Rp150.000 per siswa melalui masing-masing kepala sekolah.

“Soal berapa yang diberikan ke siswa bukan menjadi tanggung jawab kami,” katanya saat dikonfirmasi melalui telepon.
Namun, pihak Balai Bahasa tidak bersedia memberikan data lengkap peserta lomba dengan alasan tidak mendapat izin dari pimpinan.

Terpisah, Edi, Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Pendas) Inhu, kepada wartawan mengaku pihaknya hanya menghadiri pembukaan kegiatan.
“Kepala dinas hadir saat pembukaan, setelah itu kami kembali ke kantor,” ujarnya.

Atas polemik ini, sejumlah pihak berharap Bupati dan Sekretaris Daerah (Sekda) Inhu dapat memanggil kepala sekolah terkait untuk dimintai klarifikasi.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Riau juga diminta mengevaluasi pihak penyelenggara kegiatan agar lebih transparan dalam pengelolaan anggaran.

(Tim/S.H)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *